kehidupan

Minggu, 29 Maret 2009

Ibuku


ibuku
Sudah lama sekali ia merindukan sebuah rumah tanpa tanda kutip. Tapi sekelompok manusia bernama keluarga akhirnya keluar dari gubuk usangnya. Hanya sebuah rumah, tempat dimana ia bisa menata koleksi loncengnya dalam lemari kaca, menghabiskan pagi dengan memasak di dapur, duduk di ruang tamu menanti anaknya pulang, tertawa terpingkal-pingkal di ruang keluarga sambil menonton ‘Empat Mata’, menghabiskan sore menata tanaman di pekarangan belakang, atau sekedar mengintip dari jendela kamar, anaknya tengah bercumbu dengan kekasihnya di ruang keluarga.

Demikian arti rumah baginya, setelah bertahun-tahun hidup bagai sekelompok manusia purba yang berpindah dari satu gua ke gua yang lain. Kelompok, ya, terkadang ia merindukan itu. Tapi sakitnya pun belum hilang. Betapa keluarga telah menjadi neraka hidupnya yang terpanas, terganas, terjahat, terbiadab. Betapa ia sudah tidak lagi memiliki arti masa lalu, walau sinar senja mulai keluar dari ruas-ruas wajahnya. Apa lagi yang diharapkan perempuan di usia seperti itu? Ketenangan batin, perjalanan mendekat pada yang Ilahi, bebas dari hutang, tidak menjadi beban hidup bagi anak-anak, menanti kedatangan cucu-cucu yang menggemaskan, memperindah dan memberi nyawa bagi rumah (agar anaknya selalu ingin pulang), menjadi tiang penopang, pohon yang rindang, yang daunnya lalu berguguran, lalu mati. Maka selesai sudah masanya.

Harapan. Betapa kata itu telah menempanya ribuan masa. Telah menipunya, mengolok-oloknya, merangsangnya, menjebaknya, menariknya, terus menerus apapun itu. Harapan. Dia terus hidup bersamanya, dan sering kali mengajari tentang hal itu pada anaknya. Dunianya adalah dunia yang tragis menyakitkan. Deritanya sungguh menyedihkan bagai Sisifus. Atau dialah Si Lugu yang tak pernah tau orang-orang jahat mengelilinginya, orang-orang yang selalu menghancurkan harapannya, menjegalnya dalam perjalanan sunyi. Tapi, seperti ketika Ö mendapat jawaban dari kekasihnya bahwa lelaki itu masih mencintainya, dia pun terus mengalah dalam kemenangan. Mungkin karena ia membayangkan dirinya bahagia. Mungkin karena ia masih menikmati sakit, menikmati lelah, mensyukuri derita, melenakan kemanjaan hidup dengan tamparan keras. Dia, hanya terus berjalan, berjalan, terpeleset, jatuh, hancur, tertiban, roboh, terseok-seok, merangkak, jongkok, berdiri, berjalan, berjalan, berlari, terselengkat, jatuh, hancur, tertiban, roboh, terseok-seok, merangkak, jongkok, berdiri, berjalan, berjalan, berjalan…dia, hanya ingin terus berjalan.

cinta ku untuknya hanya setitik debu diantara jagat cintanya pada ku

posted by Angga at 05.47

0 Comments:

Posting Komentar

<< Home