kehidupan

Minggu, 29 Maret 2009

* Maapkan ku Ibu *


Terkadang,
Q tengah berfikir . . .
mengapa aku bisa benci padamu
Saat kau tak membela Q
Tak mendengar Q . . .
Saat kau acuh pada Q .
Namun . . .
Saat Q melihat matamu . . .
Betapa berdosanya Q
Telah membuatmu menagis
Menangisi hidup Q
Maapkan Q ibu . . .
tlah membuatmu mengangis
Mungkin . . .
jika Q tak melihat
mata itu . . .
Q tak pernah tersadar
dari perbuatan dosa Q
Terimakasih ibu . . .
karna kau telah menyadarkan Q
Terima kasih atas
Semua kasih sayang yang telah
Kau berikan kepada Q slama ini .
Meskiku sempat
Salah mengartikanya padamu
Seburuk apapun Q
Semarah apapun kau pada Q
Itu adalah kasih sayang
Yang kau tunjukan kepada Q
Itu adalah didikanmu
Yang kau terapkan padaQ sebagai tanda
Kasih Sayangmu Padaku



I LoVE MoM
29 maret 2009
20 : 22
posted by Angga at 06.24 0 comments

Ibuku


ibuku
Sudah lama sekali ia merindukan sebuah rumah tanpa tanda kutip. Tapi sekelompok manusia bernama keluarga akhirnya keluar dari gubuk usangnya. Hanya sebuah rumah, tempat dimana ia bisa menata koleksi loncengnya dalam lemari kaca, menghabiskan pagi dengan memasak di dapur, duduk di ruang tamu menanti anaknya pulang, tertawa terpingkal-pingkal di ruang keluarga sambil menonton ‘Empat Mata’, menghabiskan sore menata tanaman di pekarangan belakang, atau sekedar mengintip dari jendela kamar, anaknya tengah bercumbu dengan kekasihnya di ruang keluarga.

Demikian arti rumah baginya, setelah bertahun-tahun hidup bagai sekelompok manusia purba yang berpindah dari satu gua ke gua yang lain. Kelompok, ya, terkadang ia merindukan itu. Tapi sakitnya pun belum hilang. Betapa keluarga telah menjadi neraka hidupnya yang terpanas, terganas, terjahat, terbiadab. Betapa ia sudah tidak lagi memiliki arti masa lalu, walau sinar senja mulai keluar dari ruas-ruas wajahnya. Apa lagi yang diharapkan perempuan di usia seperti itu? Ketenangan batin, perjalanan mendekat pada yang Ilahi, bebas dari hutang, tidak menjadi beban hidup bagi anak-anak, menanti kedatangan cucu-cucu yang menggemaskan, memperindah dan memberi nyawa bagi rumah (agar anaknya selalu ingin pulang), menjadi tiang penopang, pohon yang rindang, yang daunnya lalu berguguran, lalu mati. Maka selesai sudah masanya.

Harapan. Betapa kata itu telah menempanya ribuan masa. Telah menipunya, mengolok-oloknya, merangsangnya, menjebaknya, menariknya, terus menerus apapun itu. Harapan. Dia terus hidup bersamanya, dan sering kali mengajari tentang hal itu pada anaknya. Dunianya adalah dunia yang tragis menyakitkan. Deritanya sungguh menyedihkan bagai Sisifus. Atau dialah Si Lugu yang tak pernah tau orang-orang jahat mengelilinginya, orang-orang yang selalu menghancurkan harapannya, menjegalnya dalam perjalanan sunyi. Tapi, seperti ketika Ö mendapat jawaban dari kekasihnya bahwa lelaki itu masih mencintainya, dia pun terus mengalah dalam kemenangan. Mungkin karena ia membayangkan dirinya bahagia. Mungkin karena ia masih menikmati sakit, menikmati lelah, mensyukuri derita, melenakan kemanjaan hidup dengan tamparan keras. Dia, hanya terus berjalan, berjalan, terpeleset, jatuh, hancur, tertiban, roboh, terseok-seok, merangkak, jongkok, berdiri, berjalan, berjalan, berlari, terselengkat, jatuh, hancur, tertiban, roboh, terseok-seok, merangkak, jongkok, berdiri, berjalan, berjalan, berjalan…dia, hanya ingin terus berjalan.

cinta ku untuknya hanya setitik debu diantara jagat cintanya pada ku

posted by Angga at 05.47 0 comments

Selasa, 24 Maret 2009

* hidup ini *


hidup itu bagaikan roda
yang terus berputar ...
kadang naik kadang jg turun
ya... seperti layaknya manusia
tidak akan seterusnya lurus

yang di atas takan selamanya di atas
begitu pula yang di bawah, takan selamanya di bawah

begitu pula dengan hidupku
kadang terasa indah
kadang juga terasa sepi
bagaikan putaran air ombak yg tiada hentinya

mungkin saat ini hidupku terasa perih
merasakan bagaimana rasanya berjuang sendiri
untuk menjadi seorang yang mandiri
tapi kadang aku berfikir apakah yang slama ini aku impikan ?

"akan terjadi"

terkadang aku sudah bosan dengan hidup ini
terasa lelah untuk bertahan di muka bumi ini

tapi di hatiku slalu ada tekad untuk berjuang !

memang dalam perjuangan hidup
diperlukan pengorbanan dari segala segi dan sisi
kesabaran terutama yg akan membantu kita
untuk mencapai kesempurnaan

dan keyakinan yang akan menjadi kekuatan kita
untuk melalui rintangan dalam kehidupan

dan impian yang akan menjadi penyemangat hidup
karena sesuatu yg kita inginkan berawal dari sebuah impian
impian yang indah untuk masa depan yang cerah
dan untuk kehidupan di masa depan yg lebih baik

vizz akh ...

BY : Angga Fratama
posted by Angga at 20.25 0 comments

* Tulus *


Jiwa, raga ini
hidup ini
Kasih sayang, cinta & hatiku
ku serahkan kepadamu .
Semua itu tulus Q berikan kepadamu
demi dirimu yg begitu Q kagumi
Impian q hanya untuk
bisa mendapatkan ketulusan hatimu
tuk menerima q disisimu .
salakah diri ini
jika berada di sampingmu
Q tulus mencintaimu, menyayangimu
Jika takdir kita untuk hidup
bersama, Q rela & tulus tuk menerimanya
bahkan Q bersyukur bisa hidupbersama mu
posted by Angga at 19.41 0 comments

impian

Impian. . .
hanyalah sebuah khayalan
yang ada dalam kenyataan
untuk mengingatkan kita pada seseorang

Impian . . .
hanyalah sebuah pelampiasan
untuk sebuah kisah kita pada seseorang
yang kita dambakan

Impian . . .
hanyalah impian
mungkinkah semua itu akan menjadi kenyataan
atau semua itu hanyalah akan menjadi sebuah gambaran
untuk masa kita yang akan datang

"mungkin" semua akan menjadi kenyataan
untuk orang yang selalu berjuang
dalam sebuah kehidupan
yang ingin mereka jadikan
menjadi sebuah kenyataan.

baca juga pesanya ok !!! :

Jika kita menjawab ya, janganlah kita merasa kecil hati dan putus asa. Sebaliknya, kita harus bangga dan berbahagia karena kita baru saja memasuki langkah awal kesuksesan. Mengapa demikan? Karena pondasi kesuksesan adalah impian yang kita miliki. Setiap orang yang telah sukses pasti diawali dengan impian.
posted by Angga at 07.02 0 comments

"sendiri"


















apakah hidup ini sudah tak berarti lagi

menahan angin yg berhembus sepi

seakan matahari tidak bersinar lagi

bagai tertutup awan yg begitu tebal
mungkin hidup ku hanya untuk mati
slalu sendiri tanpa tambatan hati
munkinkah hidup ini tak lama lagi
menatap bumi yang tidak bersahabat lagi
oh...tuhan berikan aku kekuatan
untuk dapat melalui hidup ini
yang begitu perih ...
posted by Angga at 06.39 0 comments